Senin, 19 September 2011

Silabus Metpen 2011

SILABUS PERKULIAHAN FAKULTAS TARBIYAH
UMSIDA TAHUN 2011

Mata Kuliah : Metodologi Penelitian Prodi : PAI/PBA
Dosen : Dr. H.M. Musfiqon, M.Pd SKS : 2 SKS

==============================================================================
Lecturing Guidances
 Interactive lecturing
 Book orJournal Research Annotation ( www.fiqon-umsida.blogspot.com)
 Discussion and in class tutorial
 Presences, Middle Test, and Final Test

Standar Kompetensi
Mahasiswa memahami metodologi penelitian secara konseptual dan mampu menerapkan metode dalam penelitian sosial, terutama pendidikan Islam.

Pokok Bahasan
1. Metodologi, metode ilmiah, dan metode penelitian
2. Masalah, variabel dan perumusan masalah
3. Jenis dan operasionalisasi penelitian
4. Populasi, sampel, dan subyek penelitian
5. Pendekatan kualitatif dan pendekatan kualitatif
6. Ujian Tengah Semester
7. Kajian Pustaka dan Kerangka Konseptual
8. Instrumen dan teknik pengumpulan data
9. Analisis data penelitian
10. Teknik pelaporan hasil penelitian
11. Implikasi teoritis dan proposisi
12. Ujian Akhir Semester
References:
1. Soetriono, MP, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, Yogyakarta: Andi, 2007.
2. Bambang Rudito dan Melia Famiola, Social Mapping, Bandung: rekayasa Sains, 2008.
3. Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial, Cipaung: Gaung Persada Press, 2009.
4. Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial dan Agama, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2003.
5. Rulam Ahmadi, Memahami Metodologi Penelitian Kualitatif, Malang: UNM Press, 2005.
6. Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta: Rajawali Pers, 2001.
7. Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif, Jakarta: Rajawali Pers, 2003.
8. Jonathan Sarwono, Metode Penelitian :Kualitatif dan Kuantitatif, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006.
9. Sanapiah Faisal, Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1982.
10. Amirul Hadi dan Haryono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2006
11. Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian;suatu pendekatan dan praktik, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992.
12. Yatim Riyanto, Metodologi Penelitian, Surabaya: SIC, 2005.
13. M.B. Miles and Huberman, Qualitative Data Analysis, Newbury Park, CA: Sage, 1994.
14. Catherine Marshal, Designing Qualitative Researh, California: Sage Publication, 1995.
15. Bryman, Quantitative and qualitative social researh, London: Unwim Hyman, 1988.

Jumat, 06 Mei 2011

Soal UTS Media

FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
UJIAN TENGAH SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2010/2011

Mata Kuliah : Media dan Teknologi Pendidikan Prodi : PBA/PAI/PGMI
Semester : IV pagi/sore Dosen: M. Musfiqon

1.Identifikasi lah fungsi dan jenis media pendidikan yang anda buat, untuk presentasi, ditinjau dari tampilan dan penggunaan.
2.Berilah alasan berdasarkan landasan penggunaan media, mengapa anda memilih media jenis ini.
3.Terangkanlah cara penggunaan dan operasionalisasi media yang anda pilih.
4.Kirimkanlah file tampilan yang anda buat (bagi yg belm kirim saat presentasi, yg sudah tidak perlu kirim lagi), dan jelaskanlah pengembangan yang akan anda lakukan.


Catatan:
1.Dikumpulkan melalui email : mediapendidikan78@gmail.com, paling lambat tanggal 14 Mei 2011
2.Cara mengirim email: tulis jurusan-nama (contoh 1: PAI Pagi-Rohmah) (contoh 2: PBA sore-Muji) (Contoh 3: PAI sore-Yudi)

Soal UTS Media 2011

Rabu, 16 Maret 2011

Silabus Media Pembelajaran

Mata Kuliah : Media & Teknologi Pembelajaran
Komponen : MKK
Fakultas : Tarbiyah
Jurusan : PAI-PBA
Bobot : 2 sks
Dosen : Dr. M. Musfiqon, M.Pd

I. Kompetensi Dasar
Mahasiswa memiliki pemahaman, pengetahuan tentang media pembelajaran, serta terampil menerapkan dalam proses pembelajaran. Selain itu juga mampu memilih media yang efektif untuk pembelajaran.

II. Pokok Bahasan

1. Pengertian, ruang lingkup, dan fungsi media pembelajaran
2. Jenis-Jenis media pembelajaran
3. Landasan landasan penggunaan media pengajaran dalam proses pembelajaran.
4. Kriteria pemilihan media pengajaran dalam pembelajaran
5. Aplikasi media pembelajaran I
6. Aplikasi media pembelajaran II
7. Aplikasi media pembelejaran III
8. Aplikasi media Pembelajaran IV
9. Modalitas Belajar dan Desain Media Pembelajaran
10. Aplikasi media pengajaran IV
11. Aplikasi media pembelajaran V
12. Aplikasi media pembelajaran VI
13. Analisis dan evaluasi media dan teknologi pembelajaran
14. Pengembangan dan pemanfaatan media pembelajaran
15. Pembelajaran berbasis multi media

III. Referensi

1. Arief S. Sadiman, Media Pendidikan, Jakarta, PT Raja Grafindo, 1996
2. Oemar Hamalik, Media Pendidikan,
3. Nasution, S, Tehnologi Pendidikan, Bumi Aksara
4. Nana Sudjana, Media Pengajaran, Bandung, Sinar Baru, 1997
5. William W. Lee. Diana L. Owens, Multimedia Based Instruksional Desighn, Sanfransisco, 2000.
6. Azhar Arsyad, Media Pengajaran, Rajawali Pers
7. Ahmad Rohani. Media Instruksional Edukatif. Rineka Cipta. 1997
8. Yusuf Hadi Miarso, tehnologi Komunikasi Pendidikan
9. Mudhofir, Prinsip-prinsip pengelolaan sumber belajar
10. Ibrahim, Media Instruksional
11. Marg. J. Rosenberg, E-Learning: Strategies For Delivering Knowledge In The Digital Age, Mc. Graw- Hill, 2001.

Jumat, 23 April 2010

Plagiat, Janganlah..

Plagiat, Janganlahhhh
Musfiqon
Tugas kuliah adalah kegiatan akademik, akademik itu syarat dengan nilai. Nilai kejujuran merupakan unsure penting. Maka jangan rusak sendiri diri kita dengan tidak berfikir kritis dan menjalankan kaidah ilmiah yang semestinya. Hanya nilai kejujuran akademik lah yang masih menjadikan diri kita mahal, tidak seperti oknum pajak, oknum politisi, oknum polisi, serta oknum-oknum lain. Maukah anda menjadi oknum akademikkkk.
Setiap orang punya kepandaian dan kecerdasan berbeda. Perbedaan itulah yang membuat manusia saling membutuhkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, saya selalu memberi nilai sesuai kemampuannya. Saya menilai semua mahasiswa pandai, maka pasti lulus dalam ujian. Namun, kalau sudah plagiat. Sekali lagi plagiat, tidak ada pahala yang bisa menebusnya, karena kejujuran adalah ruh pendidikan.
Pesan penting, jangan sampai ada karya dan tugas yang hasil nyontek di website, nyontek teman, serta cara lain. Saya akan cek dan confirm, jika terbukti. Pasti tidak lulus, dan tidak ada kesempatan mengulangi. Ya, berarti tidak laulussss

Plagiat, Janganlah..

Plagiat, Janganlahhhh
Musfiqon
Tugas kuliah adalah kegiatan akademik, akademik itu syarat dengan nilai. Nilai kejujuran merupakan unsure penting. Maka jangan rusak sendiri diri kita dengan tidak berfikir kritis dan menjalankan kaidah ilmiah yang semestinya. Hanya nilai kejujuran akademik lah yang masih menjadikan diri kita mahal, tidak seperti oknum pajak, oknum politisi, oknum polisi, serta oknum-oknum lain. Maukah anda menjadi oknum akademikkkk.
Setiap orang punya kepandaian dan kecerdasan berbeda. Perbedaan itulah yang membuat manusia saling membutuhkan dalam hidup ini. Oleh karena itu, saya selalu memberi nilai sesuai kemampuannya. Saya menilai semua mahasiswa pandai, maka pasti lulus dalam ujian. Namun, kalau sudah plagiat. Sekali lagi plagiat, tidak ada pahala yang bisa menebusnya, karena kejujuran adalah ruh pendidikan.
Pesan penting, jangan sampai ada karya dan tugas yang hasil nyontek di website, nyontek teman, serta cara lain. Saya akan cek dan confirm, jika terbukti. Pasti tidak lulus, dan tidak ada kesempatan mengulangi. Ya, berarti tidak laulussss

Kamis, 22 April 2010

Membangun Brandmarking Cawali

Membangun Brandmarking Cawali
Oleh : M. Musfiqon
Dosen UMSIDA, Kandidat Doktor IAIN Sunan Ampel

Gawe politik kota Surabaya untuk memilih walikota dan wakil walikota terasa makin ramai. Bursa cawali dan cawawali pun sudah final. Tahapan pencalonan cawali-cawawali kini memasuki proses seleksi Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Surabaya.
Meski belum ditetapkan KPU, para kandidat telah melakukan berbagai manuver politik untuk mencuri simpati dan dukungan calon pemilih dalam kontes politik yang akan dihelet 2 Juni 2010. Ada yang memasuki tahap mencari popularitas hingga menguatkan tingkat elektabilitas.
Tak heran, akhir-akhir ini mata sering terbelalak. Pikiran dan konsentrasi terkadang hilang saat melintas di jalan raya. Sebab, hampir di setiap sudut jalan kini dipenuhi berbagai publikasi politik yang tidak tertata rapi, sehingga menjadikan tata ruang publik makin tidak indah. Mulai publikasi partai pendukung hingga publikasi personal dengan gaya dan action yang cukup atraktif. Padahal, 16 Mei 2010 baru dimulai masa kampanye para calon walikota dan cawawali.
Publikasi personal para cawali-cawawali ini merupakan proses marketing personal sebagai tahapan kampanye menghadapi pilwali dalam waktu dekat ini. Sehingga berbagai alat peraga dan aktifitas sosialisasi yang membanjiri setiap sudut ruang publik dimaksudkan dapat memberi pengetahuan dan pengenalan diri kepada masyarakat sebagai calon pemilih. Tak heran jika disepanjang jalan terpampang spanduk, baliho, brosur, serta berbagai kegiatan publikasi lain.
Jika diamati, masing-masing cawali-cawawali memiliki jargon dan program prioritas yang disampaikan langsung kepada konstituen sesuai dapil masing-masing sebagai calon pemilih. Selain jargon program prioritas, para cawali juga mengusung jargon bersifat herois dan populis yang mencerminkan visi misi partai. Setiap jargon politik yang dimunculkan ini tentu memiliki makna filosofis dan sosiologis bagi masing-masing calon dan partainya.
Setelah tahapan seleksi administrasi, 3 April 2010 KPU akan segera mengumumkan nomor urut dan pengemuman pasangan calon yang akan bersaing dalam kontes politik lima tahunan. Pasca penetapan inilah diperkirakan bursa cawali-cawawali akan makin ramai. Kampanye terselubung dengan berbagai macam publikasi akan ditempuh para caleg, meski belum masa kampanye. Berdasarkan data KPUD, ada enam pasangan cawali-cawawali.
Dalam perspektif politik komunikasi, jargon politik ini bertujuan untuk memudahkan pemilih dalam mengingat dan mengerti program prioritas para cawali. Sehingga saat di bilik suara dalam proses pemilihan akan terbantu ingatannya untuk memilih salah satu pasangan tertentu. Ini merupakan salah satu proses mempengaruhi pemilih. Ingat, politic is an art. Semua ini bagian dari seni yang akan menjadi salah satu ukuran kepemimpinan seseorang. Pemimpin yang sukses adalah orang yang bisa mempengaruhi seseorang sehingga orang tersebut bersedia mengikuti perintahnya.
Dari sudut pandang marketing, pemunculan jargon dan program prioritas ini bertujuan memasarkan para cawali agar memiliki nilai jual tinggi di mata pemilih. Dalam kontek politik, rakyat akan membeli jualan cawali berupa dukungan suara saat pemilihan. Oleh karena itu, jargon yang tidak memiliki nilai jual pasti akan ditinggalkan pemilih. Sebaliknya jargon yang mengena di hati masyarakat pasti akan laris dipilih. Kuncinya saat pemilihan nanti.
Membangun brandmarking cawali cukup penting dalam konstalasi politik yang makin tinggi nilai tawarnya. Brandmarking inilah yang akan menentukan pemilih untuk menentukan dukungan. Sama dengan di dunia pemasaran. Semakin bagus brandmarking sebuah produk maka akan semakin tinggi minat pasar untuk membeli. Rata-rata produk yang berhasil dalam penjualan adalah produk yang memiliki brandmarking yang telah diterima di pasar. Brandmarking yang kuat ditandai dengan dikenalnya suatu merek di masyarakat dan bisa memunculkan persepsi positif dari pasar politik dan menumbuhkan kesetiaan konstituen (brand loyalty). Brandmarking yang dimunculkan cawali pun sangat menentukan keberhasilan dalam menggalang dukungan suara. Apalagi, pemilih sekarang semakin jeli dalam memberikan dukungan.
Di sisi lain, para kandidat cawali perlu menyadari dan memperhatikan adanya perubahan perilaku pemilih dalam menentukan pilihan kepada salah satu pasangan. Dari yang sentralis menjadi desentralis, dari kolektif menjadi individualis, dan dari tidak rasional menjadi rasional.
Dulu, gerakan pemilih sangat ditentukan dari komando pimpinannya, baik di partai, organisasi, maupun dalam keluarga. Ini berarti sentralis sifatnya. Sekarang sudah bergeser pada desentralis, pemilih menentukan sikap politiknya dari struktur bawah, tidak dari pusat. Pemilih biasanya menentukan dukungan secara kolektif, tetapi sekarang lebih individual. Setiap orang menentukan pilihannya atas kesadaran diri yang dipengaruhi tingkat pengetahuan dan pendidikan politik yang didapat.
Paling tidak, ada tiga dimensi yang mempengaruhi perubahan perilaku calon pemilih yang makin sulit diprediksi ini. Ketiga aspek itu adalah pendidikan politik, problem kerakyatan, dan perlunya perubahan. Sikap ingin berubah ini muncul dari kejenuhan yang dirasakan. Wakil rakyat yang lalu dinilai tidak bisa menyelesaikan persoalan hidup rakyat. Sehingga mereka memilih berperilaku trial and error . Pokoknya ganti orang.
Tiga dimensi ini patut diperhatikan para cawali agar memiliki brandmarking dan bernilai jual tinggi di masyarakat. Pembangunan brandmarking ini bisa dilakukan dengan berbagai strategi. Bisa dibentuk secara kolektif melalui mesin politik maupun organisasi.
Selain itu, brandmarking juga bisa dibentuk secara personal oleh masing-masing kandidat. Bahkan brandmarking personal ini sangat menentukan arah dukungan pemilih. William Arunda menyampaikan ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam mempertahankan brand personal (citra perseorangan), yaitu : clarity, consistency, dan constancy. Clarity adalah kejelasan tentang ’who you are’ dan kejelasan tentang brand promises, janji inti yang diusung seseorang. Selain itu brand personal memerlukan consistency, yaitu mempertahankan citra yang sudah terbentuk. Kemudian Constancy, yaitu kondisi yang secara terus menerus berada di tengah audiensnya.
Masyarakat nampaknya lebih mengutamakan personal traits (sifat-sifat kepribadian) seseorang dalam menentukan sikap politiknya. Kepribadian cawali ini bisa dilihat dari track record perjalanan karir dan kiprahnya di masyarakat. Bahkan brand personal ini juga dilihat dari sisi postur tubuh, jenis kelamin, serta tingkat usia, muda atau tua. Brand tidak hanya sekadar jaminan kualitas dan jaminan politik tetapi berisi kontrak sosial antara cawali dengan konstituen. Sebab bisa terjadi reposisi brand apabila citra yang diproyeksikan dalam komunikasi dan aktifitas promosinya tidak lagi mengacu pada brand values atau nilai-nilai yang sejak awal diyakini oleh konstituen sebagai bagian yang mempererat keterlibatan emosional.