Kamis, 10 September 2009

Pendidikan

Membelajarkan yang Putus Sekolah

Oleh: M. Musfiqon

Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Kelulusan sekolah dan Penerimaan Siswa Baru (PSB) telah berakhir. Pekan ini para siswa sudah mulai aktif masuk sekolah setelah berebut mencari lembaga pendidikan yang berkualitas sesuai ukuran masing-masing orang tua dan siswa.

Sekolah unggulan, baik negeri maupun swasta, selalu menjadi pilihan pertama bagi calon siswa baru. Sementara sekolah pinggiran rata-rata menerima luberan siswa yang tidak masuk pada sekolah pilihan pertama. Diterima dimanapun anak-anak ini masih memiliki kesempatan belajar. Siswa yang diterima pada sekolah pilihannya tentu sangat gembira dan merasakan awal kesuksesan dalam pembelajaran.

Namun, dibalik kegembiraan dan kesempatan memperoleh belajar sebagian besar anak usia sekolah tersebut ada masalah besar yang perlu diantisipasi pasca kelulusan sekolah dan penerimaan siswa baru. Putus sekolah menjadi problema yang perlu mendapat perhatian dan penanganan serius dari semua kalangan.

Putus sekolah memang telah menjadi fenomena tahunan setiap kelulusan sekolah dan Penerimaan Siswa Baru (PSB) dimulai. Masalah ini bak gunung salju yang sulit diselesaikan dalam waktu singkat. Pemberantasan anak putus sekolah terus dilakukan tetapi angka anak putus sekolah juga tetap tinggi. James Conant mengatakan masalah putus sekolah merupakan dinamit sosial. Meski ledakan putus sekolah telah ditekan, problem putus sekolah tetap akan ada. Sampai kapanpun fenomena putus sekolah akan terus terjadi.

Fenomena putus sekolah ini tidak hanya terjadi di daerah-daerah pedesaan, tetapi juga terjadi di perkotaan. Bahkan angka anak putus sekolah di perkotaan juga cukup tinggi. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Tri Rismaharini, mengatakan, Jumlah siswa SD/MI negeri dan swasta mencapai 250.943 anak. Sedangkan, jumlah anak usia sekolah SD (5-13 tahun) adalah 359.880. Angka anak putus sekolah didapat dari jumlah anak usia sekolah dikurangi anak yang sekolah sehingga angka anak putus sekolah usia itu sebesar 108.937 anak. (JP/08/07/08).

Analisis ini menjadi relevan jika kita buka data angka anak putus sekolah di Jatim yang terhitung masih tinggi. Ini bisa dilihat dengan tingginya jumlah penduduk buta huruf di Jatim yang mencapai dua juta orang di Jatim. Angka ini akan meningkat setelah kelulusan sekolah tahun ini.

Faktor Putus Sekolah

Putus sekolah berarti berhenti bersekolah sebelum dinyatakan lulus atau memutuskan tidak melanjutkan sekolah pada jenjang yang lebih tinggi setelah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Ada putus di tengah jalan ada juga yang putus di terminal. Keduanya sama-sama kategori putus sekolah yang perlu diantisipasi dan mendapat perhatian serius semua kalanga, terutama pemerintah.

Putus sekolah erat kaitannya dengan kegagalan dalam belajar yang dipengaruhi berbagai faktor. Pertama, faktor ekonomi. Selama ini, dugaan penyebab utama terhadap tingginya putus sekolah adalah faktor ekonomi. Orang tua tidak memiliki dana cukup untuk membiayai pendidikan anaknya karena pendapatannya rendah. Tidak sebanding dengan tingginya biaya pendidikan yang harus dibayar.

Statemen ini sesuai data International Labour Organization (ILO) yang telah melakukan penelitian di Jatim, Jateng, Jabar, dan beberapa daerah lain. Menurutnya, sekitar 19 % anak usia 15 tahun putus sekolah.

Kedua, faktor sosiologis. Sosiologis anak juga memiliki pengaruh terhadap angka putus sekolah. Misalnya, anak yang berada dalam lingkungan keluarga atau masyarakat yang berpendidikan rendah cenderung tidak sekolah karena pengaruh lingkungan.

Ketiga, faktor Psikologis. faktor personal siswa juga mempengaruhi terjadinya putus sekolah. Faktor ini muncul dari kondisi psikologis anak yang tidak stabil. Akhirnya muncul sikap malas belajar, academic shock (trauma akademik), kemudian berubah menjadi depresi. Akhirnya putus sekolah menjadi pilihan individu anak. Kita bisa lihat, banyak anak usia sekolah masuk kategori putus sekolah padahal orang tuanya mampu membiayai mereka. Tentu, masih ada factor lain yang perlu dianalisis.

Selain itu, ada temuan data yang menarik dari UNICEF. Dalam penelitian di sejumlah daerah di Indonesia ditemukan data bahwa faktor anak putus sekolah dikarenakan kurikulum di sekolah terlalu kaku. Tidak fleksibel. Konsekwensinya siswa yang tidak bisa menyesuaikan dengan materi kurikulum akhirnya berhenti. Kemampuan pikirnya tidak kuat mengikuti standar materi.

Menimbang Sekolah Terbuka

Langkah alternatif dan penanganan anak putus sekolah perlu dipikirkan. Diantara langkah alternatif yang bisa dilakukan antara lain, pertama, identifikasi dini siswa yang berpotensi putus sekolah. Ini bisa dilakukan dengan merekap aktifitas siswa selama belajar pada jenjang sebelumnya. Sekolah bisa mendata indikator-indikator putus sekolah sejak awal. Sebab secara kualitas indikator anak yang potensial putus sekolah bisa dilihat dari minimnya kahadiran, nilai di bawah rata-rata, tertinggal kelas, tunggakan pembayaran tinggi, pendapatan orang tua rendah, frekwensi ke guru Bimbingan Karier, serta kesetabilan psikologis anak selama belajar.

Penyiapan program pembelajaran bagi anak putus sekolah juga menjadi hal penting. Berdasarkan data identifikasi tersebut pemerintah dan masyarakat bisa membuat program alternatif bagi anak-anak putus sekolah ini. Sebab, sebagai anak bangsa mereka memiliki hak sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak sesuai amanat UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas yang menjelaskan bahwa pemerintah wajib menyelenggarakan pendidikan yang layak bagi warga negara dan setiap warga negara berhak mendapat pendidikan yang layak.

Namun, program ini harus disesuaikan hasil analisis faktor penyebab anak putus sekolah. Misalnya, bagi anak yang putus sekolah karena kurang biaya maka program yang dikembangkan adalah pemberian beasiswa penuh. Bukan bebas SPP saja, tetapi biaya pendidikan secara keseluruhan. Bisa juga program padat karya yang bisa meningkatkan pendapatan orang tua siswa. Bagi anak yang putus sekolah karena faktor personal maka perlu ada program pendampingan dan rehabilitasi psikologis anak. Target program ini adalah menumbuhkan motivasi anak sehingga sadar untuk belajar.

Selain itu, merubah paradigma dan konsep kurikulum, agar fleksibel. Penerapan kurikulum perlu disesuaikan dengan karakteristik siswa, baik dari sisi psikologis, sosiologis maupun filosofis. Mungkin perlu kurikulum khusus bagi anak yang mengalami putus sekolah, terutama bagi siswa yang tidak bisa menguasai materi dalam kurikulum sekolah. Kita akui, selama ini kurikulum diterapkan secara merata tanpa memberi ruang diferensiasi siswa. Padahal perbedaan kondisi sosiologis dan psikologis siswa sangat mempengaruhi proses pembelajaran. Disatu sisi ini tidak adil sebetulnya.

Pemikiran merevitalisasi sekolah terbuka untuk menampung anak putus sekolah bisa menjadi solusi tentatif terhadap anak putus sekolah. Namun, pengelolaan sekolah terbuka jangan sampai disamakan dengan sekolah reguler seperti yang berjalan selama ini. Perlu ada konsep kurikulum, metode pembelajaran, serta evaluasi belajar yang disesuaikan dengan karakteristik anak putus sekolah. Sebab, problem anak putus sekolah berbeda dengan anak reguler.

Selain itu, pemerintah perlu memberikan keterampilan khusus sesuai minat dan bakat yang dimiliki anak. Pengembangan life skill ini diharapkan bisa membuka lapangan kerja keluarga dan meningkatkan pendapatan keluarga. Program ini dalam jangka panjang bisa memperbaiki ekonomi warga keluarga yang akhirnya bisa membiayai sekolah anaknya secara mandiri. Program ini bisa dilakukan lintas intansi. Misalnya, Dinas P & K, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Sosial, Badan Diklat, serta instansi lain.

Kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat harus digalakkan. Terutama penyelenggaraan pendidikan khusus bagi anak putus sekolah. Pemerintah perlu mengambil kebijakan untuk mendirikan sekolah khusus bagi anak putus sekolah pada masing-masing daerah. Konsep pendidikan ini disesuaikan karakteristik dan problematika anak. Misalnya, bagi anak yang kemampuan akademiknya rendah materinya disesuaikan. Bagi anak yang pagi bekerja membantu orang tua maka sekolah masuk sore atau bahkan malam hari. Fleksibel sesuai kebutuhan. Namun sekolah khusus ini berbeda dengan kejar paket yang selama ini digunakan motor pemberantasan buta huruf. Karena banyak anak putus sekolah yang sebetulnya memiliki kemampuan akademik tinggi.

Writer Profile

Nama : M. Musfiqon, M.Pd

Alamat : Jl. R. Paku 345 RT 03/RW04 Desa Gemurung, Gedangan Sidoarjo

Phoe : 031-8918336/Hp. 081553118592

Email : fiq78@telkom.net

Pekerjaan : Dosen Umsida

No. Rek : 0054163665 BNI Kantor Cabang Graha Pangeran atas nama M. Musfiqon

Pengalaman Menulis:

  1. Kolomnis di media massa, Radar Surabaya, Jawa Pos.
  2. Peneliti pada DP2M Diknas Jakarta
  3. Penulis Buku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar